fbpx

Secreations

Bertani di Kerajaan Monster

Untitled-1

Read with Me!

          Kerajaan monstrum adalah kerjaan yang dihuni oleh monster. Orc, slime, goblin, vampir, naga, centaur, chimera, dan masih banyak lagi. Masing-masing monster memiliki kekuatan unik. perbedaan ras, sumber daya, perebutan wilayah kekuasaan hingga berebut pasangan membuat peperangan selalu terjadi. Tapi, ada satu monster yang berbeda dari yang lain. Monster itu adalah…

            “Aku! Haloo semua! Perkenalkan namaku Rhoda. Aku adalah monster dari spesies dryads. Salam kenal denganmu!” ujar Rhoda pada tanaman-tanaman dikebunnya. Dryad adalah spesies monster tumbuhan. Dryad memiliki tinggi mencapai 3 meter, berkulit kayu, tangan dari dahan pohon tebal, jari dari ranting pohon dan rambutnya dedaunan. Dyrad memiliki kekuatan unik yaitu mempercepat tumbuhnya pohon dan tanaman. Selain itu, mereka juga bisa menggerakan tanaman sesuai keinginan mereka.

Rhoda adalah monster yang berbeda dari yang lain. Dia senang mengurus tanaman dan tidak suka pada peperangan. Selain itu, Rhoda memiliki kekuatan yang spesial dari Dryad lainnya, yaitu merasakan esens kehidupan. Kekuatan ini hanya dimiliki oleh garis keturunan Dryana, pahlawan Dryad terkuat dan pendiri suku Dryadori.

Meskipun keturunan pahlawan Dryad, Rhoda yang tidak suka peperangan menolak perintah berperang dengan chimera dan diusir oleh ayahnya yang merupakan penguasa suku dryadori. Rhoda berkelana mencari tempat tinggal dan menemukan padang rumput bekas medan perang yang telah ditinggalkan. Akhirnya, Rhoda memutuskan untuk membangun rumahnya di sini.

“Baiklah. Kurasa aku akan membuat ini sebagai tempat tinggalku,” ujar Rhoda.

Dia memasukkan salah satu jarinya ke dalam tanah. Kemudian, Rhoda memutuskan jari tersebut dan menutupnya dengan tanah. Dia merapalkan mantra dan tumbuh pohon besar dari tempat jarinya terkubur. Pohon itu tumbuh dengan sangat cepat. Setelah beberapa saat, pohon itu berhenti tumbuh. Pohon yang tumbuh menyerupai pohon beringin, namun di tengah batangnya terdapat pintu setengah lingkaran.

“Ahhhh…. Akhirnya aku punya tempat yang bisa kupanggil rumah,” ujar Rhoda dengan lega. Dia masuk ke rumah itu dan mulai membuat perabotan dengan menggunakan kekuatannya. Perabotan-perabotan yang terbentuk dari dinding rumah. Setelah Rhoda mengucapkan mantra έπιπλα (epipla), meja, kursi, lemari dan sebagainya  tumbuh memenuhi ruangan.  

Hari itu Rhoda bekerja keras untuk mengembalikan ekosistem yang rusak karena peperangan, Rhoda mulai menggali. memasukkan kedua tangannya ke tanah dan merambatkan jari-jarinya di dalam tanah. Kekuatannya membuat tanah menjadi gembur dan mudah bagi tanaman untuk mencari air. Setelah itu, Rhoda menarik rambatan jarinya dan menanam biji-biji yang dia temukan di perjalanan.

            Tanaman yang Rhoda tanam disusun dalam garis lurus dan diberikan jarak antar tanaman. Dia berpikir kalau tanaman ditanam tidak diberikan jarak, nanti mereka akan berebut-rebutan makanan terutama air dan nutrisi. Makanan tanaman berupa nutrisi yang telah tersedia di tanah. Rhoda dapat mendeteksi nutrisi tersebut dengan kekuatannya merasakan esens kehidupan. Dia akan memberikan unsur tersebut dari bangkai monster yang telah mati.  

            Rhoda juga memiliki kebiasaan yang unik dari Dryad pada umumnya. Dia senang mengobrol dengan tanaman. Walaupun Rhoda tahu tanaman tidak bisa berbicara apapun, dia tetap senang melakukannya. karena dia merasa tanaman lebih memperhatikan perkataannya daripada monster lain, termasuk keluarganya.

            Setelah satu tahun berlalu, tanaman yang Rhoda tanam sudah memenuhi lahan yang dia siapkan. Mulai dari tanaman yang pendek hingga tanaman yang sangat tinggi. Tanaman-tanaman tersebut berasal dari berbagai jenis. Terdapat satu jenis tanaman baru yang belum lama ini tumbuh dan Rhoda sedang menamainya dan mengobrol dengannya.

            “Halo tanaman kecil. Aku Rhoda. Sekarang, kamu akan tinggal di sini bersama denganku. Aku akan menamakan kamu Dragonegg karena kamu berasal dari buah yang menyerupai telur naga Sang Raja. Aku harap kamu senang di sini!” ujar Rhoda.

            Raja Monstrum bernama King Drachen Báirseach. Dia berasal dari ras naga yang dikenal sangat kuat dan memiliki kekuatan magis yang menakjubkan. Sang Raja mempunyai seorang anak yang masih berada dalam telur. Dia selalu menjaga telurnya dengan bantuan pasukan elit dan juga kekuatan magis.

            “Aku akan melindungi mu dari segala macam ancaman, Anakku! Aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi,” ujar King Drachen sambil mengingat kenangan pahit dimasa lalu. Dua puluh tahun lalu, istri King Drachen, Rovena, meregang nyawa di hadapan para iblis hitam yang menyerang kastil monstrosium secara tiba-tiba. Dia rela mati demi melindungi telur naga dari serangan iblis hitam.

            Setelah kerjadian tersebut setiap setahun sekali, King Drachen harus mengunjugi temannya di pegunungan Horendall untuk membahas rencana strategis bersama naga lain. Seperti biasanya ia bersiap dan mengaktifkan sistem keamanan untuk menjaga kerajaan dan anaknya.       

            Pada saat yang sama, Rhoda sedang menyiram tanaman-tanaman yang membutuhkan air. Tanaman-tanaman tersebut memberikan sinyal dengan melayukan daun-daunnya. Alat yang Rhoda gunakan tidak pernah ditemukan di mana pun. Dia membuatnya sendiri dari kayu yang dia temukan di hutan. Alat itu dapat menyiram air secara menyebar agar tanah yang disiram tidak kelebihan air.

            Setelah selesai menyiram, seorang monster dating menghampiri kediamannya. Rhoda belum pernah melihat monster itu sebelumnya. Monster itu menyerupai kadal besar berwarna merah menyala yang sangat menawan. Kadal itu melihat Rhoda dan mendekatinya secara hati-hati.

            “Uhhh… siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Rhoda berhati-hati.

            “Permisi, apakah kamu punya sesuatu untuk makan?” pinta monster kadal.

            Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku memberinya roti yang aku buat untuk memberi makan burung yang menjadi hama bagi tanaman-tanamanku? Ahh aku tidak tahu apa yang harus kulakakuan, pikir Rhoda.

            “Baiklah, tunggu sini,” ujar Rhoda. Dia masuk ke rumah dan mengambil satu roti. “Ini, kuharap kau suka,” Rhoda memberikan roti kepada monster kadal itu.

            “Wahhh terima kasih banyak tuan. Tuan adalah monster yang baik,” monster kadal berterima kasih diiringi oleh mata yang berkaca-kaca. Dia mengambil roti yang diberikan dan langsung melahapnya. Roti tersebut terasa enak sekali.

            “Sama-sama, kawan,” Rhoda duduk di teras rumah. “Omong-omong, siapa namamu? Dari mana kamu berasal?” tanya Rhoda yang mempersilakan monster itu untuk duduk bersamanya.

            Monster kadal beranjak duduk di sebelah Rhoda. “Aku tidak tahu namaku. Aku juga tidak tahu dari mana aku berasal. Suatu saat aku tidak bisa melihat apa-apa. Kemudian, di depan mataku, terjadi perkelahian,” dia menjelaskan dengan raut muka yang sedih. “Bolehkah aku tinggal dulu di sini untuk sementara, tuan? Aku takut dengan monster-monster yang berkelahi.”

            “Tentu saja boleh. Kamu boleh tinggal di sini asalkan kamu membantuku mengurusi tanaman-tanaman ini ya. Dan satu lagi, panggil aku Rhoda.”

            “Terima kasih kasih banyak, Tuan Rhoda. Aku akan bekerja keras supaya tanaman-tanaman ini tumbuh sehat!” ujarnya dengan semangat.

            “Aku suka semangatmu! Untuk memudahkan kita berkomunikasi, bagaimana jika aku memberimu nama?”

            “Apa kau tidak keberatan, Tuan Rhoda?”

            “Tentu saja tidak,” Rhoda mengangkat bahu.

            Monster kadal mengangguk. “Baiklah, apa nama yang akan tuan berikan padaku?” Rhoda menengadahkan kepalanya.

            “Goula. Namamu adalah Goula,” ujarnya.

            Goula tersenyum tersipu. “Itu nama yang bagus tuan. Aku suka itu.”. Suasana di kediaman Rhoda terasa begitu damai. Angin sejuk bertiup pelan membuai tanaman-tanaman. Langit terlihat tanpa awan mendung membuat matahari menyinari kawasan padang rumput tanpa hijab.

            Rhoda menunjuk daerah tanaman sebelah kanannya. “Tadi aku sudah menyiram tanaman di daerah itu. Tinggal daerah sana yang belum tersirami. Tolong sirami daerah yang belum disiram dengan air dari wadah sebelahmu itu dan juga gunakan alat ini.” Dia memberikan alat penyiram pada Goula.

            Goula mengangguk dan mulai menyiram.

            King Drachen pulang kembali ke kastil monstrosium tepat dua pekan kemudian. Baginya, dua pekan terasa sepert dua hari. “Aku masih rindu kampung halamanku. Tapi aku harus fokus, anakku menunggu di kastil,” gumamnya sembari terbang di angkasa.

            Sesampainya di kastil, King Drachen melepas mantra yang telah dia gunakan di sekitar kastil untuk melindungi anaknya. Namun, di ruangan tahta, telur anak King Drachen tidak dapat ditemukan. Kepanikan melanda pikiran Sang Raja.

            “Penjaganya kemana?!” tanyanya pada diri sendiri. King Drachen mencari monster penjaga sekaligus telurnya kesana-kemari. Namun, tidak ada orang di kastil.

            “DIMANA TELURKUUUUU!!!!!!!!!” raung King Drachen. Raungan tersebut sangat menggelegar hingga menyebabkan guncangan dahsyat di sekitar kastil. Retakan muncul di seluruh dinding kastil.

            King Drachen terbang keluar istana melalui atapnya. Dia menerobos atap batu itu dengan sangat kuat. Lalu, dia merapalkan mantra pencari.

αναζήτηση για αυγό (anazitisi giago)

Mata King Drachen berubah warna dari berwarna hijau seperti ular menjadi berwarna merah darah. Mantra yang dilapalkan ternyata penguatan penglihatan, sehingga matanya dapat melihat seluruh penjuru kerajaan. King Drachen melihat telur naga nya tergantung di atas pohon.  Rhoda dan satu monster lain tampak di sekitar pohon itu entah apa yang mereka lakukan.

“Rhoda… sudah kuduga dia monster aneh yang berniat jahat,” gumamnya. King Drachen mengepakkan sayapnya lebih cepat. Suara terbangnya mencekam telinga. Kepakan sayapnya semakin dipercepat setelah melewati Hutan Nivera. Pepohonan di hutan yang terkena kepakan sayapnya terguncang kuat. Akhirnya dia sampai di padang rumput Treoliana.

Pohon besar tumbuh di tengah-tengahnya. Di sekitar pohon itu, tumbuh tanaman-tanaman yang tidak pernah King Drachen lihat. Rhoda dan monster yang tidak dikenalnya sedang membuang-buang air pada tanah.

“Apa-apaan ini?!” tanya King Drachen dengan sangat tegas.

“Yang Mulia Raja!” Rhoda terkejut melihat Sang Raja sedang mengunjunginya. Dia langsung berlutut di hadapan King Drachen juga Goula mengikuti gerakan Rhoda sebaik mungkin.  “Saya merasa terhomat mendapat kunjungan istimewa di tempat tinggal saya yang sederhana ini. Apakah duhai gerangan yang menuntun engkau ke sini?”

“Jangan banyak beralasan! Apa yang kau lakukan pada telurku?!”

“Saya benar-benar tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang terjadi pada telurmu, Paduka Raja,” jawab Rhoda masih berlutut.

“Jadi seperti ini kau ingin bergurau dengaku huh?” King Drachen mendarat di sebelah pohon Dragonegg. “Apa yang kau lakukan pada telurku? Mengapa kamu menggantungnya seperti kau ingin dia mati?”

“Wahai Yang Mulia Raja! Telur yang engkau maksud adalah buah Dragonegg. Itu bukanlah telur, melainkan hanya buah yang pohon itu hasilkan. Saat ini, buah itu dalam proses pematangan jadi belum bisa dipetik,” tangkas Rhoda.

“Jangan bercanda denganku!” Napas King Drachen menderu mengeluarkan asap. “Turunkan telur itu sekarang juga atau aku bakar tanaman kau.”

“Saya rasa tidak bisa, Yang Mulia. Itu akan berlawanan dengan apa yang kupercayai untuk menempatkan tanaman-tanamanku dalam bahaya.” Rhoda bangkit dan menatap King Drachen dengan tatapan menantang. “Jika kau bersikukuh, aku tidak punya pilihan lain selain melindungi tanaman-tanamanku.”

ROAARRRRR!!!1!1! Sang Raja meraung keras dan mengeluarkan api ke langit. Dia mengepakkan sayapnya, mencoba terbang dan membakar habis semua tanaman Rhoda.

Rhoda merapalkan beberapa mantra dan akar pohon beringin yang menjadi rumahnya merambat menuju Sang Raja. Akar itu berhasil melilit kakinya dan membuatnya terjatuh. King Drachen mengeluarkan napas apinya menuju Rhoda dan tanaman-tanaman sekitarnya. Rhoda langsung membatalkan mantra yang sedang disiapkannya dan melompat untuk menghindari napas api tersebut. Akan tetapi, tanaman-tanaman Rhoda tidak dapat menghindari api yang melesat menuju mereka. Tanaman-tanaman nya terbakar. Rhoda semakin naik pitam melihat tanamannya terbakar.

“KAU AKAN MENYESALI INI!” Rhoda terjun sambil mengepalkan tangannya. Dia berniat untuk memukul King Drachen tepat di kepalanya. Namun, King Drachen mengelak. Pertarungan berlangsung amat sengit. Tanaman-tanaman Rhoda berhasil disihir oleh Rhoda agar padam. Saat, tanaman-tanaman itu terkena api lagi, Rhoda akan langsung merapalkan mantra agar api itu padam.

Setelah beberapa saat, Goula datang menengahi mereka. “SUDAH CUKUPP!” teriaknya. Api biru keluar dari mulutnya. “Kenapa semua monster selalu harus bertarung dengan satu sama lainnya? Aku tidak mengerti. Kenapa kalian tidak ingin memahami monster lain? Dengan begitu, kita bisa menghindari peperangan yang percuma. Telur yang digantung itu benar-benar hanya buah. Aku melihatnya beberapa kali di hutan Nivera. Kalau Paduka Raja mencari telurmu, kau sudah menemukannya. Akulah anakmu.”

“Apa?!” Rhoda dan King Drachen terperangah bersamaan.

“Aku tidak menyadari pada awalnya. Tapi setelah aku memikirkan kembali, aku yakin aku anakmu,” jelas Goula. “Aku ingat pertama kali aku bangun adalah aku bangun di ruangan kastil dan pecahan telur berserakan di sekitarku. Monster-monster di ruangan itu sedang bertengkar. Aku takut jadi aku kabur dari sana. Dan di sinilah aku sekarang.”

“Tapi, bagaimana kamu bisa keluar dari kastil? Aku menempatkan sihir kuno mengelilingi kastil agar melindungi dari serangan luar,” tanya King Drachen.

Goula berpikir sejenak. “Serangan dari luar, bukankan itu berarti monster dari dalam dapat keluar?”

King Drachen menyadari celah besar dari sihir yang dia gunakan. “Ahh benar juga. Sihir itu mencegah segala sesuatu masuk bukan keluar.” Dia menggelengkan kepalanya.

Rhoda berjalan menghampiri. “Jadi, kau tidak akan memetik buah itu?”

King Drachen mengelengkan kepalanya lagi. “Tentu saja tidak. Aku hanya datang mencari telurku. Tapi aku rasa aku salah paham. Anakku sudah menetas dan rupanya dia merepotkanmu. Aku minta maaf.” King Drachen menundukkan kepalanya meminta maaf.

Rhoda melambaikan tangannya. “Tidak, tidak perlu meminta maaf padaku. Saat kesalahpahaman terjadi, kita harus berpikir jernih supaya tidak melulu terjadi perseteruan. Saya juga mohon maaf pada Paduka Raja karena telah menyerang engkau.”

“Permintaan maaf diterima.” King Drachen tertawa. “Mari kita pulang ke kastil. Sebagai permintaan maaf, aku akan sering berkunjung ke sini. Sambutlah aku…”

Rhoda berlutut. “Dengan senang hati. Saya akan menunggu kedatangan engkau. Berhati-hatilah di perjalanan pulang, Paduka Raja.”

Goula menaiki punggung King Drachen. Mereka terbang menuju kastil Monstrosium. Rhoda bangkit setelah melihat mereka pergi. “Baiklah, aku harus membersihkan kekacauan ini.”

“Dan begitulah cerita kesalahpahaman ini berakhir…..” ujar Rhoda ke tanaman baru yang tumbuh di halamanKerajaan monstrum adalah kerjaan yang dihuni oleh monster. Orc, slime, goblin, vampir, naga, centaur, chimera, dan masih banyak lagi. Masing-masing monster memiliki kekuatan unik. perbedaan ras, sumber daya, perebutan wilayah kekuasaan hingga berebut pasangan membuat peperangan selalu terjadi. Tapi, ada satu monster yang berbeda dari yang lain. Monster itu adalah…

            “Aku! Haloo semua! Perkenalkan namaku Rhoda. Aku adalah monster dari spesies dryads. Salam kenal denganmu!” ujar Rhoda pada tanaman-tanaman dikebunnya. Dryad adalah spesies monster tumbuhan. Dryad memiliki tinggi mencapai 3 meter, berkulit kayu, tangan dari dahan pohon tebal, jari dari ranting pohon dan rambutnya dedaunan. Dryad memiliki kekuatan unik yaitu mempercepat tumbuhnya pohon dan tanaman. Selain itu, mereka juga bisa menggerakan tanaman sesuai keinginan mereka.

Rhoda adalah monster yang berbeda dari yang lain. Dia senang mengurus tanaman dan tidak suka pada peperangan. Selain itu, Rhoda memiliki kekuatan yang spesial dari Dryad lainnya, yaitu merasakan esens kehidupan. Kekuatan ini hanya dimiliki oleh garis keturunan Dryana, pahlawan Dryad terkuat dan pendiri suku Dryadori.

Meskipun keturunan pahlawan Dryad, Rhoda yang tidak suka peperangan menolak perintah berperang dengan chimera dan diusir oleh ayahnya yang merupakan penguasa suku dryadori. Rhoda berkelana mencari tempat tinggal dan menemukan padang rumput bekas medan perang yang telah ditinggalkan. Akhirnya, Rhoda memutuskan untuk membangun rumahnya di sini.

“Baiklah. Kurasa aku akan membuat ini sebagai tempat tinggalku,” ujar Rhoda.

Dia memasukkan salah satu jarinya ke dalam tanah. Kemudian, Rhoda memutuskan jari tersebut dan menutupnya dengan tanah. Dia merapalkan mantra dan tumbuh pohon besar dari tempat jarinya terkubur. Pohon itu tumbuh dengan sangat cepat. Setelah beberapa saat, pohon itu berhenti tumbuh. Pohon yang tumbuh menyerupai pohon beringin, namun di tengah batangnya terdapat pintu setengah lingkaran.

“Ahhhh…. Akhirnya aku punya tempat yang bisa kupanggil rumah,” ujar Rhoda dengan lega. Dia masuk ke rumah itu dan mulai membuat perabotan dengan menggunakan kekuatannya. Perabotan-perabotan yang terbentuk dari dinding rumah. Setelah Rhoda mengucapkan mantra έπιπλα (epipla), meja, kursi, lemari dan sebagainya  tumbuh memenuhi ruangan.  

Hari itu Rhoda bekerja keras untuk mengembalikan ekosistem yang rusak karena peperangan, Rhoda mulai menggali. memasukkan kedua tangannya ke tanah dan merambatkan jari-jarinya di dalam tanah. Kekuatannya membuat tanah menjadi gembur dan mudah bagi tanaman untuk mencari air. Setelah itu, Rhoda menarik rambatan jarinya, menanam biji-biji yang dia temukan di perjalanan.

            Tanaman yang Rhoda tanam disusun dalam garis lurus dan diberikan jarak antar tanaman. Dia berpikir kalau tanaman ditanam tidak diberikan jarak, nanti mereka akan berebut-rebutan makanan terutama air dan nutrisi. Makanan tanaman berupa nutrisi yang telah tersedia di tanah. Rhoda dapat mendeteksi nutrisi tersebut dengan kekuatannya merasakan esens kehidupan. Dia akan memberikan unsur tersebut dari bangkai monster yang telah mati.  

            Rhoda juga memiliki kebiasaan yang unik dari Dryad pada umumnya. Dia senang mengobrol dengan tanaman. Walaupun Rhoda tahu tanaman tidak bisa berbicara apapun, dia tetap senang melakukannya. karena dia merasa tanaman lebih memperhatikan perkataannya daripada monster lain, termasuk keluarganya.

            Setelah satu tahun berlalu, tanaman yang Rhoda tanam sudah memenuhi lahan yang dia siapkan. Mulai dari tanaman yang pendek hingga tanaman yang sangat tinggi. Tanaman-tanaman tersebut berasal dari berbagai jenis. Terdapat satu jenis tanaman baru yang belum lama ini tumbuh dan Rhoda sedang menamainya dan mengobrol dengannya.

            “Halo tanaman kecil. Aku Rhoda. Sekarang, kamu akan tinggal di sini bersama denganku. Aku akan menamakan kamu Dragonegg karena kamu berasal dari buah yang menyerupai telur naga Sang Raja. Aku harap kamu senang di sini!” ujar Rhoda.

            Raja Monstrum bernama King Drachen Báirseach. Dia berasal dari ras naga yang dikenal sangat kuat dan memiliki kekuatan magis yang menakjubkan. Sang Raja mempunyai seorang anak yang masih berada dalam telur. Dia selalu menjaga telurnya dengan bantuan pasukan elit dan juga kekuatan magis.

            “Aku akan melindungi mu dari segala macam ancaman, Anakku! Aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi,” ujar King Drachen sambil mengingat kenangan pahit dimasa lalu. Dua puluh tahun lalu, istri King Drachen, Rovena, meregang nyawa di hadapan para iblis hitam yang menyerang kastil monstrosium secara tiba-tiba. Dia rela mati demi melindungi telur naga dari serangan iblis hitam.

            setahun sekali, King Drachen harus mengunjugi temannya di pegunungan Horendall untuk membahas rencana strategis bersama naga lain. Seperti biasanya ia bersiap dan mengaktifkan sistem keamanan untuk menjaga kerajaan dan anaknya.         

            Pada saat yang sama, Rhoda sedang menyiram tanaman-tanaman yang membutuhkan air. Tanaman-tanaman tersebut memberikan sinyal dengan melayukan daun-daunnya. Alat yang Rhoda gunakan tidak pernah ditemukan di mana pun. Dia membuatnya sendiri dari kayu yang dia temukan di hutan. Alat itu dapat menyiram air secara menyebar agar tanah yang disiram tidak kelebihan air.

            Setelah selesai menyiram, seorang monster dating menghampiri kediamannya. Rhoda belum pernah melihat monster itu sebelumnya. Monster itu menyerupai kadal besar berwarna merah menyala yang sangat menawan. Kadal itu melihat Rhoda dan mendekatinya secara hati-hati.

            “Uhhh… siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Rhoda berhati-hati.

            “Permisi, apakah kamu punya sesuatu untuk makan?” pinta monster kadal.

            Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku memberinya roti yang aku buat untuk memberi makan burung yang menjadi hama bagi tanaman-tanamanku? Ahh aku tidak tahu apa yang harus kulakakuan, pikir Rhoda.

            “Baiklah, tunggu sini,” ujar Rhoda. Dia masuk ke rumah dan mengambil satu roti. “Ini, kuharap kau suka,” Rhoda memberikan roti kepada monster kadal itu.

            “Wahhh terima kasih banyak tuan. Tuan adalah monster yang baik,” monster kadal berterima kasih diiringi oleh mata yang berkaca-kaca. Dia mengambil roti yang diberikan dan langsung melahapnya. Roti tersebut terasa enak sekali.

            “Sama-sama, kawan,” Rhoda duduk di teras rumah. “Omong-omong, siapa namamu? Dari mana kamu berasal?” tanya Rhoda yang mempersilakan monster itu untuk duduk bersamanya.

            Monster kadal beranjak duduk di sebelah Rhoda. “Aku tidak tahu namaku. Aku juga tidak tahu dari mana aku berasal. Suatu saat aku tidak bisa melihat apa-apa. Kemudian, di depan mataku, terjadi perkelahian,” dia menjelaskan dengan raut muka yang sedih. “Bolehkah aku tinggal dulu di sini untuk sementara, tuan? Aku takut dengan monster-monster yang berkelahi.”

            “Tentu saja boleh. Kamu boleh tinggal di sini asalkan kamu membantuku mengurusi tanaman-tanaman ini ya. Dan satu lagi, panggil aku Rhoda.”

            “Terima kasih kasih banyak, Tuan Rhoda. Aku akan bekerja keras supaya tanaman-tanaman ini tumbuh sehat!” ujarnya dengan semangat.

            “Aku suka semangatmu! Untuk memudahkan kita berkomunikasi, bagaimana jika aku memberimu nama?”

            “Apa kau tidak keberatan, Tuan Rhoda?”

            “Tentu saja tidak,” Rhoda mengangkat bahu.

            Monster kadal mengangguk. “Baiklah, apa nama yang akan tuan berikan padaku?” Rhoda menengadahkan kepalanya.

            “Goula. Namamu adalah Goula,” ujarnya.

            Goula tersenyum tersipu. “Itu nama yang bagus tuan. Aku suka itu.”. Suasana di kediaman Rhoda terasa begitu damai. Angin sejuk bertiup pelan membuai tanaman-tanaman. Langit terlihat tanpa awan mendung membuat matahari menyinari kawasan padang rumput tanpa hijab.

            Rhoda menunjuk daerah tanaman sebelah kanannya. “Tadi aku sudah menyiram tanaman di daerah itu. Tinggal daerah sana yang belum tersirami. Tolong sirami daerah yang belum disiram dengan air dari wadah sebelahmu itu dan juga gunakan alat ini.” Dia memberikan alat penyiram pada Goula.

            Goula mengangguk dan mulai menyiram.

            King Drachen pulang kembali ke kastil monstrosium tepat dua pekan kemudian. Baginya, dua pekan terasa sepert dua hari. “Aku masih rindu kampung halamanku. Tapi aku harus fokus, anakku menunggu di kastil,” gumamnya sembari terbang di angkasa.

            Sesampainya di kastil, King Drachen melepas mantra yang telah dia gunakan di sekitar kastil untuk melindungi anaknya. Namun, di ruangan tahta, telur anak King Drachen tidak dapat ditemukan. Kepanikan melanda pikiran Sang Raja.

            “Penjaganya kemana?!” tanyanya pada diri sendiri. King Drachen mencari monster penjaga sekaligus telurnya kesana-kemari. Namun, tidak ada orang di kastil.

            “DIMANA TELURKUUUUU!!!!!!!!!” raung King Drachen. Raungan tersebut sangat menggelegar hingga menyebabkan guncangan dahsyat di sekitar kastil. Retakan muncul di seluruh dinding kastil.

            King Drachen terbang keluar istana melalui atapnya. Dia menerobos atap batu itu dengan sangat kuat. Lalu, dia merapalkan mantra pencari.

αναζήτηση για αυγό (anazitisi giago)

Mata King Drachen berubah warna dari berwarna hijau seperti ular menjadi berwarna merah darah. Mantra yang dilapalkan ternyata penguatan penglihatan, sehingga matanya dapat melihat seluruh penjuru kerajaan. [ia1] King Drachen melihat telur naga nya tergantung di atas pohon.  Rhoda dan satu monster lain tampak di sekitar pohon itu entah apa yang mereka lakukan.

“Rhoda… sudah kuduga dia monster aneh yang berniat jahat,” gumamnya. King Drachen mengepakkan sayapnya lebih cepat. Suara terbangnya mencekam telinga. Kepakan sayapnya semakin dipercepat setelah melewati Hutan Nivera. Pepohonan di hutan yang terkena kepakan sayapnya terguncang kuat. Akhirnya dia sampai di padang rumput Treoliana.

Pohon besar tumbuh di tengah-tengahnya. Di sekitar pohon itu, tumbuh tanaman-tanaman yang tidak pernah King Drachen lihat. Rhoda dan monster yang tidak dikenalnya sedang membuang-buang air pada tanah.

“Apa-apaan ini?!” tanya King Drachen dengan sangat tegas.

“Yang Mulia Raja!” Rhoda terkejut melihat Sang Raja sedang mengunjunginya. Dia langsung berlutut di hadapan King Drachen juga Goula mengikuti gerakan Rhoda sebaik mungkin.  “Saya merasa terhomat mendapat kunjungan istimewa di tempat tinggal saya yang sederhana ini. Apakah duhai gerangan yang menuntun engkau ke sini?”

“Jangan banyak beralasan! Apa yang kau lakukan pada telurku?!”

“Saya benar-benar tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang terjadi pada telurmu, Paduka Raja,” jawab Rhoda masih berlutut.

“Jadi seperti ini kau ingin bergurau dengaku huh?” King Drachen mendarat di sebelah pohon Dragonegg. “Apa yang kau lakukan pada telurku? Mengapa kamu menggantungnya seperti kau ingin dia mati?”

“Wahai Yang Mulia Raja! Telur yang engkau maksud adalah buah Dragonegg. Itu bukanlah telur, melainkan hanya buah yang pohon itu hasilkan. Saat ini, buah itu dalam proses pematangan jadi belum bisa dipetik,” tangkas Rhoda.

“Jangan bercanda denganku!” Napas King Drachen menderu mengeluarkan asap. “Turunkan telur itu sekarang juga atau aku bakar tanaman kau.”

“Saya rasa tidak bisa, Yang Mulia. Itu akan berlawanan dengan apa yang kupercayai untuk menempatkan tanaman-tanamanku dalam bahaya.” Rhoda bangkit dan menatap King Drachen dengan tatapan menantang. “Jika kau bersikukuh, aku tidak punya pilihan lain selain melindungi tanaman-tanamanku.”

ROAARRRRR!!!1!1! Sang Raja meraung keras dan mengeluarkan api ke langit. Dia mengepakkan sayapnya, mencoba terbang dan membakar habis semua tanaman Rhoda.

Rhoda merapalkan beberapa mantra dan akar pohon beringin yang menjadi rumahnya merambat menuju Sang Raja. Akar itu berhasil melilit kakinya dan membuatnya terjatuh. King Drachen mengeluarkan napas apinya menuju Rhoda dan tanaman-tanaman sekitarnya. Rhoda langsung membatalkan mantra yang sedang disiapkannya dan melompat untuk menghindari napas api tersebut. Akan tetapi, tanaman-tanaman Rhoda tidak dapat menghindari api yang melesat menuju mereka. Tanaman-tanaman nya terbakar. Rhoda semakin naik pitam melihat tanamannya terbakar.

“KAU AKAN MENYESALI INI!” Rhoda terjun sambil mengepalkan tangannya. Dia berniat untuk memukul King Drachen tepat di kepalanya. Namun, King Drachen mengelak. Pertarungan berlangsung amat sengit. Tanaman-tanaman Rhoda berhasil disihir oleh Rhoda agar padam. Saat, tanaman-tanaman itu terkena api lagi, Rhoda akan langsung merapalkan mantra agar api itu padam.

Setelah beberapa saat, Goula datang menengahi mereka. “SUDAH CUKUPP!” teriaknya. Api biru keluar dari mulutnya. “Kenapa semua monster selalu harus bertarung dengan satu sama lainnya? Aku tidak mengerti. Kenapa kalian tidak ingin memahami monster lain? Dengan begitu, kita bisa menghindari peperangan yang percuma. Telur yang digantung itu benar-benar hanya buah. Aku melihatnya beberapa kali di hutan Nivera. Kalau Paduka Raja mencari telurmu, kau sudah menemukannya. Akulah anakmu.”

“Apa?!” Rhoda dan King Drachen terperangah bersamaan.

“Aku tidak menyadari pada awalnya. Tapi setelah aku memikirkan kembali, aku yakin aku anakmu,” jelas Goula. “Aku ingat pertama kali aku bangun di ruangan kastil dan pecahan telur berserakan di sekitarku. Monster-monster di ruangan itu sedang bertengkar. Aku takut jadi aku kabur dari sana. Dan di sinilah aku sekarang.”

“Tapi, bagaimana kamu bisa keluar dari kastil? Aku menempatkan sihir kuno mengelilingi kastil agar melindungi dari serangan luar,” tanya King Drachen.

Goula berpikir sejenak. “Serangan dari luar, bukankan itu berarti monster dari dalam dapat keluar?”

King Drachen menyadari celah besar dari sihir yang dia gunakan. “Ahh benar juga. Sihir itu mencegah segala sesuatu masuk bukan keluar.” Dia menggelengkan kepalanya.

Rhoda berjalan menghampiri. “Jadi, kau tidak akan memetik buah itu?”

 “Tentu saja tidak. Aku hanya datang mencari telurku. Tapi aku rasa aku salah paham. Anakku sudah menetas dan rupanya dia merepotkanmu. Aku minta maaf.” King Drachen menundukkan kepalanya meminta maaf.

Rhoda melambaikan tangannya. “Tidak, tidak perlu meminta maaf padaku. Saat kesalahpahaman terjadi, kita harus berpikir jernih supaya tidak melulu terjadi perseteruan. Saya juga mohon maaf pada Paduka Raja karena telah menyerang engkau.”

“Permintaan maaf diterima. HAHAHAHA ” King Drachen tertawa. “Mari kita pulang ke kastil. Sebagai permintaan maaf, aku akan sering berkunjung ke sini. Sambutlah aku…”

Rhoda berlutut. “Dengan senang hati. Saya akan menunggu kedatangan engkau. Berhati-hatilah di perjalanan pulang, Paduka Raja.”

Goula menaiki punggung King Drachen. Mereka terbang menuju kastil Monstrosium. Rhoda bangkit setelah melihat mereka pergi. “Baiklah, aku harus membersihkan kekacauan ini.”

“Dan begitulah  kesalahpahaman ini berakhir…..” ujar Rhoda ke tanaman baru yang tumbuh di halaman.

Connect With Us!

3 Comments

  1. Vika FP says:

    Keren banget, fantasinya dapet bangeeett saluutt!!

  2. Chelsiya Nikela says:

    AMAZINGGGG!

  3. Triss says:

    Sehat selalu pak Rhoda 🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Visit Us!

Credits!

Rhoda: https://imgur.com/9mMLbHj

King Drachen: 

Background: “http://www.freepik.com“>Designed by brgfx / Freepik 

Designed by rawpixel.com / Freepik

Designed by Freepik

Vecteezy.com

 

Buy now